Halaman

Sabtu, 23 April 2011

Cerita Dua Kartini Masa Kini

Cerita Dua Kartini Masa Kini


» Seorang wanita menyiapkan bahan pembuat jamu

Mutia Nugraheni, Anda Nurlaila | Jum'at, 22 April 2011, 13:02 WIB

VIVAnews - Kisah Raden Ajeng Kartini dengan cita-citanya pada pemberdayaan wanita, pendidikan dan kesetaraan kesempatan telah berlalu puluhan tahun lalu. Namun lebih dari satu abad kemudian, semangatnya tetap dirasakan para wanita Indonesia.

Seperti kisah Mooryati Soedibyo. Ia merupakan pengusaha wanita sukses dan bisa dikatakan mendobrak budaya yang cenderung selalu berada di belakang kaum pria. Wanita berusia 83 tahun ini bercerita, ia dibesarkan dalam keluarga yang sarat nilai tradisional bahwa istri harus selalu mendukung suami.

"Didikan orang tua bahwa istri tidak perlu bekerja jika suami telah memiliki pekerjaan yang baik. Tapi saya memang berkeinginan untuk maju dan meningkatkan taraf hidup saya," katanya pada Kartini Day Women Executive Forum bertema Women Empowerment : New Age Women, di Jakarta.

Menurut Moor yang awalnya berniat menjadi duta besar, tujuan, tekad serta semangat yang kuat membuat usahanya tak goyah saat menemui hambatan. Setelah mendapat restu suami dan keluarganya, ia lantas menciptakan usaha yang menjadi hobinya selama bertahun-tahun yaitu pada jamu tradisional Jawa.

"Saya merasa harus menciptakan jamu yang lebih praktis, efisien dan bermanfaat," katanya

Tak hanya mendapat tantangan dari keluarga, pengetahuan masyarakat soal jamu yang masih awam memberi tantangan tersendiri. Untuk mengubah pandangan negatif di era 1975-an, Moor memilih untuk mendekati masyarakat disekitarnya dan memberitahu mengenai manfaat usaha jamu.

"Kami berikan penjelasan bahwa berusaha dengan tetap memperhatikan keluarga akan membuat perempuan juga bisa menghasilkan," kata Moor.

Usahanya tak sia-sia. Produk jamu Mooryati telah menembus pasar dunia dengan puluhan ribu karyawan dan tercatat sebagai perusahaan besar di Indonesia . Mooryati, mengingatkan perlunya konsisten untuk menjalankan usaha meskipun mengalami pasang-surut dan kegagalan. Dia pun ingin menyebarkan kepada perempuan Indonesia mengenai kewirausahaan dengan mendirikan akademi wirausaha.

Kisah lain datang dari Santi Mia Sipan. Berawal dari seorang profesional yang berpindah-pindah kerja hingga delapan kali. Pada akhirnya ia kini menjadi Direktur Utama. Dari seorang pekerja, Santi membuat keputusan untuk menjadi seorang pengusaha.

Sambil bekerja, ia membangun jaringan multi level marketing (MLM). Setelah seluk beluk usaha ia serap, Santi banting setir dengan meninggalkan pekerjaan dan mendirikan usaha yang tak biasa dilakoni perempuan, perkebunan jati.

"Kuncinya adalah passion dan desire. Saya yakin aktualisasi diri, mandiri dan beribadah dan memberi sesuatu positif kepada orang lain adalah keberhasilan," kata Santi.

Pengusaha wanita yang kini membawahi 200 petani jati ini memberi tahu kiatnya dalam berusaha. "Lakukanlah sekarang dan peluang Anda berhasil 50 persen. Kerjakan sekarang dengan keyakinan akan membuat peluang keberhasilan menjadi 90 persen," katanya.


» Seorang wanita menyiapkan bahan pembuat jamu



VIVAnews - Kisah Raden Ajeng Kartini dengan cita-citanya pada pemberdayaan wanita, pendidikan dan kesetaraan kesempatan telah berlalu puluhan tahun lalu. Namun lebih dari satu abad kemudian, semangatnya tetap dirasakan para wanita Indonesia.

Seperti kisah Mooryati Soedibyo. Ia merupakan pengusaha wanita sukses dan bisa dikatakan mendobrak budaya yang cenderung selalu berada di belakang kaum pria. Wanita berusia 83 tahun ini bercerita, ia dibesarkan dalam keluarga yang sarat nilai tradisional bahwa istri harus selalu mendukung suami.

"Didikan orang tua bahwa istri tidak perlu bekerja jika suami telah memiliki pekerjaan yang baik. Tapi saya memang berkeinginan untuk maju dan meningkatkan taraf hidup saya," katanya pada Kartini Day Women Executive Forum bertema Women Empowerment : New Age Women, di Jakarta.

Menurut Moor yang awalnya berniat menjadi duta besar, tujuan, tekad serta semangat yang kuat membuat usahanya tak goyah saat menemui hambatan. Setelah mendapat restu suami dan keluarganya, ia lantas menciptakan usaha yang menjadi hobinya selama bertahun-tahun yaitu pada jamu tradisional Jawa.

"Saya merasa harus menciptakan jamu yang lebih praktis, efisien dan bermanfaat," katanya

Tak hanya mendapat tantangan dari keluarga, pengetahuan masyarakat soal jamu yang masih awam memberi tantangan tersendiri. Untuk mengubah pandangan negatif di era 1975-an, Moor memilih untuk mendekati masyarakat disekitarnya dan memberitahu mengenai manfaat usaha jamu.

"Kami berikan penjelasan bahwa berusaha dengan tetap memperhatikan keluarga akan membuat perempuan juga bisa menghasilkan," kata Moor.

Usahanya tak sia-sia. Produk jamu Mooryati telah menembus pasar dunia dengan puluhan ribu karyawan dan tercatat sebagai perusahaan besar di Indonesia . Mooryati, mengingatkan perlunya konsisten untuk menjalankan usaha meskipun mengalami pasang-surut dan kegagalan. Dia pun ingin menyebarkan kepada perempuan Indonesia mengenai kewirausahaan dengan mendirikan akademi wirausaha.

Kisah lain datang dari Santi Mia Sipan. Berawal dari seorang profesional yang berpindah-pindah kerja hingga delapan kali. Pada akhirnya ia kini menjadi Direktur Utama. Dari seorang pekerja, Santi membuat keputusan untuk menjadi seorang pengusaha.

Sambil bekerja, ia membangun jaringan multi level marketing (MLM). Setelah seluk beluk usaha ia serap, Santi banting setir dengan meninggalkan pekerjaan dan mendirikan usaha yang tak biasa dilakoni perempuan, perkebunan jati.

"Kuncinya adalah passion dan desire. Saya yakin aktualisasi diri, mandiri dan beribadah dan memberi sesuatu positif kepada orang lain adalah keberhasilan," kata Santi.

Pengusaha wanita yang kini membawahi 200 petani jati ini memberi tahu kiatnya dalam berusaha. "Lakukanlah sekarang dan peluang Anda berhasil 50 persen. Kerjakan sekarang dengan keyakinan akan membuat peluang keberhasilan menjadi 90 persen," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar