Halaman

Jumat, 08 April 2011

LASKAR PELANGI II

% "
2

PULAU Belitong yang makmur seperti mengasingkan diri dari tanah Sumatra yang
membujur dan di sana mengalir kebudayaan Melayu yang tua. Pada abad ke-19, ketika
korporasi secara sistematis mengeksploitasi timah, kebudayaan bersahaja itu mulai hidup
dalam karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnya mencerminkan perbedaan
sangat mencolok seolah berdasarkan status berkasta-kasta. Kasta majemuk itu tersusun
rapi mulai dari para petinggi PN Timah yang disebut “orang staf” atau urang setap dalam
dialek lokal sampai pada para tukang pikul pipa di instalasi penambangan serta warga
suku Sawang yang menjadi buruh-buruh yuka penjahit karung timah. Salah satu atribut
diskriminasi itu adalah sekolah-sekolah PN.
Maka lahirlah kaum menak, implikasi dari institusi yang ingin memelihara citra
aristokrat. PN melimpahi orang staf dengan penghasilan dan fasilitas kesehatan,
pendidikan, promosi, transportasi, hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatif
dibanding kompensasi yang diberikan kepada mereka yang bukan orang staf. Mereka,
kaum borjuis ini, bersemayam di kawasan eksklusif yang disebut Gedong. Mereka seperti
orang-orang kulit putih di wilayah selatan Amerika pada tahun 70-an. Feodalisme di
Belitong adalah sesuatu yang unik, karena ia merupakan konsekuensi dari adanya budaya
korporasi, bukan karena tradisi paternalistik dari silsilah, subkultur, atau privilese yang
dianugerahkan oleh penguasa seperti biasa terjadi di berbagai tempat lain.
Sepadan dengan kebun gantung yang memesona di pelataran menara Babylonia,
sebuah taman kesayangan Tiran Nebuchadnezzar III untuk memuja Dewa Marduk,
Gedong adalah land mark Belitong. Ia terisolasi tembok tinggi berkeliling dengan satu
akses keluar masuk seperti konsep cul de sac dalam konsep pemukiman modern.
Arsitektur dan desain lanskapnya bergaya sangat kolonial. Orang-orang yang tinggal di
dalamnya memiliki nama-nama yang aneh, misalnya Susilo, Cokro, Ivonne, Setiawan,
atau Kuntoro, tak ada Muas, Jamali, Sa’indun, Ramli, atau Mahader seperti nama orangorang
Melayu, dan mereka tidak pernah menggunakan bin atau binti.
Gedong lebih seperti sebuah kota satelit yang dijaga ketat oleh para Polsus (Polisi
Khusus) Timah. Jika ada yang lancang masuk maka koboi-koboi tengik itu akan
menyergap, mengintergoasi, lalu interogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang
tangkapan pada tulisan “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”
yang bertaburan secara mencolok pada berbagai akses dan fasilitas di sana, sebuah power
statement tipikal kompeni.
Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesan menjaga jarak, dan kesan
itu diperkuat oleh jajaran pohon-pohon saga tua yang menjatuhkan butir-butir buah
semerah darah di atas kap mobil-mobil mahal yang berjejal-jejal sampai keluar garasi. Di
sana, rumah-rumah mewah besar bergaya Victoria memiliki jendela-jendela kaca lebar
dan tinggi dengan tirai yang berlapis-lapis laksana layar bioskop. Rumah-rumah itu
ditempatkan pada kontur yang agak tinggi sehingga kelihatan seperti kastil-kastil kaum
bangsawan dengan halaman terpelihara rapi dan danau-danau buatan. Di dalamnya hidup
tenteram sebuah keluarga kecil dengan dua atau tiga anak yang selalu tampak damai,
temaram, dan sejuk.
Setiap rumah memiliki empat bangunan terpisah yang disambungkan oleh selasarselasar
panjang. Itulah rumah utama sang majikan, rumah bagi para pembantu, garasi,
dan gudang-gudang. Selasar-selasar itu mengelilingi kolam kecil yang ditumbuhi
Nymphaea caereulea atau the blue water lily yang sangat menawan dan di tengahnya
terdapat patung anak-anak gendut semacam Manequin Piss legenda negeri Belgia yang
menyemprotkan air mancur sepanjang waktu dari kemaluan kecilnya yang lucu.
Pot-pot kayu anggrek mahal Tainia shimadai dan Chysis digantungkan berderetderet
di bibir atap selasar dan di bawahnya tersusun rapi bejana keramik antik bertanggatangga
berisi kaktus Chaemasereas dan Parodia scopa. Untuk urusan bunga ini ada
petugas khusus yang merawatnya. Di luar lingkar kolam didirikan sebuah kandang
berlubang kotak-kotak kecil persegi berbentuk piramida yang berseni dan ditopang oelh
sebuah pilar bergaya Romawi, itulah rumah burung merpati Inggris.
Di dalam rumah utama sang majikan terdapat ruang tamu dengan lampu-lampu
yang teduh dan perabot utama di sana adalah sebuah sofa Victorian rosewood berwarna
merah. Jika duduk di atasnya seseorang dapat merasa dirinya seperti seorang paduka raja.
Di samping ruang tamu adalah ruang makan tempat para penghuni rumah makan malam
mengenakan busana senja yang terbaik dan bersepatu. Di meja makan mewah dengan
kayu cinnamon glaze, mereka duduk mengelilingi makanan yang namanya bahkan belum
ada terjemahannya. Pertama-tama perangsang lapar pumpkin and Gorgonzola soup, lalu
hadir caesar salad menu utama, chicken cordon bleu, vitello alla Provenzale, atau ….
Pada bagian akhir sebagai makanan penutup adalah creamy cheesecake topped with
stawberry puree, buah-buah persik dan prem.
Mereka makan dengan tenang sembari mendengarkan musik klasik yang elegan:
Mozart: Haffner No. 35 in D Major. Mereka mematuhi table manner. Setelah
melampirkan serbet di atas pangkuannya makan malam dimulai nyaris tanpa suara dan
tak ada seorang pun yang menekan bibir meja dengan sikunya.
Sarapan pagi disajikan di ruangan yang berbeda. Ruangan ini terbuka, menghadap
ke kebun anggrek dan kolam renang dangkal yang biru. Mejanya juga berbeda yakni
terracotta tile top oval yang lucu namun berkelas. Di pagi hari mereka senang mencicipi
omelet dan menyeruput the Earl Grey atau cappuccino, lalu mereka melemparkan remahremah
roti pada burung-burung merpati Inggris yang berebutan, rakus tapi jinak.
Halaman setiap rumah sangat luas dan tak dipagar. Kebanyakan didekorasi
dengan karya seni instalasi dari konstruksi logam yang maknanya tak mudah dicerna
orang awam. Hamparan rumput manila di halaman menyentuh lembut bibir jalan raya
dengan tinggi permukaan yang sama. Ada daya tarik tersendiri di situ. Tak ada parit,
karena semua sistem pembuangan diatur di bawah tanah. Pekarangan ditumbuhi pinang
raja, bambu Jepang, pisang kipas, dan berjenis-jenis palem yang berselang-seling di
antara taman-taman bunga umum, ornamen, galeri, angsa-angsa besar yang berkeliaran,
kafe members only, patung-patung, snooker bar, sudut-sudut tempat bermain anak-anak
berisi ayam-ayam kalkun yang dibiarkan bebas, trotoar untuk membawa anjing jalanjalan,
kolam-kolam renang, dan lapangan-lapangan golf. Tenang dan tidak berisik,
kecuali sedikit bunyi, rupanya anjing pudel sedang mengejar beberapa ekor kucing
anggora.
Namun, selain suara hewan-hewan lucu itu sore ini terdengar lamat-lamat denting
piano dari salah satu kastil Victoria yang terututp rapat berpilar-pilar itu. Floriana atau
Flo yang tomboi, salah seorang siswa sekolah PN, sedang les piano. Guru privatnya
sangat bersemangat tapi Flo sendiri terkantuk-kantuk tanpa minat. Kedua tangannya
menopang wajah murungnya sambil menguap berulang-ulang di samping sebuah
instrumen megah: grand piano merk Steinway and sons yang hitam, dingin, dan
berkilauan. Wajah Flo seperti kucing kebanyakan tidur dan bangun magrib-magrib.
Bapaknya—seorang Mollen Bas, kepala semua kapal keruk—duduk di sebuah
kursi besar semacam singgasana sehingga tubuh kecilnya tenggelam. Kakinya dibungkus
sepatu mahal De Carlo cokelat yang elegan, tergantung berayun-ayun lucu. Ia geram
pada tingkah si tomboi dan malu pada sang guru, seorang wanita berkacamata, setengah
baya, berwajah cerdas dan hanya bisa tersenyum-senyum. Beliau tak henti-henti
memohon maaf pada wanita Jawa yang sangat santun itu atas kelakuan anaknya.
Bapak Flo adalah orang hebat, seseorang yang amat terpelajar. Ia adalah insinyur
lulusan terbaik dari Technische Universiteit Delf di Holland dari Fakultas
Werktuiqbouwkunde, Maritieme techniek & technische materiaalwetenschappen, yang
artinya kurang lebih: jago teknik.
Ia adalah salah satu dari segelintir orang Melayu asli Belitong yang berhak tinggal
di Gedong dan orang kampung yang mampu mencapai karier tinggi di jajaran elite orang
staf karena kepintarannya. Sebagai Mollen Bas beliau sanggup mengendalikan shift
ribuan karyawan, memperbaiki kerusakan kapal keruk yang tenaga-tenaga ahli asing
sendiri sudah menyerah, dan mengendalikan aset produksi miliaran dolar. Tapi
menghadapi anak perempuan kecilnya, si tomboi gasing yang tak bisa diatur ini, beliau
hampir menyerah. Semakin keras suara bapaknya menghardik semakin lebar Flo
menguap.
Pokok perkaranya sederhana, yakni beliau telah memiliki beberapa anak laki-laki
dan Flo si bungsu, adalah anak perempuan satu-satunya. Namun anak perempuannya ini
bersikeras ingin menjadi laki-laki. Setiap hari beliau berusaha memerempuankan Flo
antara lain dengan memaksanya kursus piano. Grand piano itu didatangkan dengan kapal
khusus dari Jakarta. Guru privat yang merupakan seorang instruktur musik profesional,
juga khusus dijemput dari Tanjong Pandan. Lebih dari itu, di sela kesibukannya,
bapaknya rela menunggui Flo kursus, namun yang beliau dapat tak lebih dari uapanuapan
itu. Flo bahkan tak berminat menyentuh tuts-tuts hitam putih yang berkilat-kilat
karena pikirannya melayang ke sasana tempat ia latihan kick boxing dan angkat barbel.
Flo tak suka menerima dirinya sebagai seorang perempuan. Mungkin karena
pengharuh dari saudara-saudara kandungnya yang seluruhnya laki-laki atau karena suatu
ketidakseimbangan dalam kimia tubuhnya. Maka ia memotong rambut dengan model
lurus pendek dan ia belajar mengubah ekspresi wajah cantiknya agar merefleksikan
seringai laki-laki. Ia bercelana jeans, kaos oblong, dan membuang anting-anting yang
dibelikan ibunya. Guru privat itu memperkenalkan dengan lembut notasi do, mi, sol, si
dalam lintasan empat oktaf dan memperlihatkan posisi jari-jemari pada setiap notasi itu
sebagai dasar bagi Flo untuk berlatih fingering. Flo menguap lagi.
%
3 * 4,
TAK disangsikan, jika di-zoom out, kampung kami adalah kampung terkaya di Indonesia.
Inilah kampung tambang yang menghasilkan timah dengan harga segenggam lebih mahal
puluhan kali lipat dibanding segantang padi. Triliunan rupiah aset tertanam di sana,
miliaran rupiah uang berputar sangat cepat seperti putaran mesin parut, dan miliaran
dolar devisa mengalir deras seperti kawanan tikus terpanggil pemain seruling ajaib Der
Rattenfanger von Hameln. Namun jika di-zoom in, kekayaan itu terperangkap di satu
tempat, ia tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggi Gedong.
Hanya beberapa jengkal di luar lingkaran tembok tersaji pemandangan kontras
seperti langit dan bumi. Berlebihan jika disebut daerah kumuh tapi tak keliru jika
diumpamakan kota yang dilanda gerhana berkepanjangan sejak era pencerahan revolusi
industri. Di sana, di luar lingkar tembok Gedong hidup komunitas Melayu Belitong yang
jika belum punya enam anak belum berhenti beranak pinak. Mereka menyalahkan
pemerintah karena tidak menyediakan hiburan yang memadai sehingga jika malam tiba
mereka tak punya kegiatan lain selain membuat anak-anak itu.
Di luar tembok feodal tadi berdirilah rumah-rumah kami, beberapa sekolah
negeri, dan satu sekolah kampung Muhammadiyah. Tak ada orang kaya di sana, yang ada
hanya kerumunan toko miskin di pasar tradisional dan rumah-rumah panggung yang
renta dalam berbagai ukuran. Rumah-rumah asli Melayu ini sudah ditinggalkan zaman
keemasannya. Pemiliknya tak ingin merubuhkannya karena tak ingin berpisah dengan
kenangan masa jaya, atau karena tak punya uang.
Di antara rumah panggung itu berdesak-desakan kantor polisi, gudang-gudang
logistik PN, kantor telepon, toapekong, kantor camat, gardu listrik, KUA, masjid, kantor
pos, bangunan pemerintah—yang dibuat tanpa perencanaan yang masuk akal sehingga
menjadi bangunan kosong telantar, tandon air, warung kopi, rumah gadai yang selalu
dipenuhi pengunjung, dan rumah panjang suku Sawang.
Komunitas Tionghoa tinggal di bangunan permanen yang juga digunakan sebagai
toko. Mereka tidak memiliki pekarangan. Adapun pekarangan rumah orang Melayu
ditumbuhi jarak pagar, beluntas, beledu, kembang sepatu, dan semak belukar yang
membosankan. Pagar kayu saling-silang di parit bersemak di mana tergenang air mati
berwarna cokelat—juga sangat membosankan. Entok dan ayam kampung berkeliaran
seenaknya. Kambing yang tak dijaga melalap tanaman bunga kesayangan sehingga sering
menimbulkan keributan kecil.
Jalan raya di kampung ini panas menggelegak dan ingar-bingar oleh suara logam
yang saling beradu ketika truk-truk reyot lalu-lalang membawa berbagai peralatan teknik
eksplorasi timah. Kawasan kampung ini dapat disebut sebagai urban atau perkotaan.
Umumnya tujuh macam profesi tumpang tindih di sini: kuli PN sebagai mayoritas,
penjaga toko, pegawai negeri, pengangguran, pegawai kanotr desa, pedagang, dan
pensiunan. Sepanjang waktu mereka hilir mudik dengan sepeda. Semuanya, para
penduduk, kambing, entok, ayam, dan seluruh bangunan itu tampak berdebu, tak teratur,
tak berseni, dan kusam.
Keseharian orang pinggiran ini amat monoton. Pagi yang sunyi senyap mendadak
sontak berantakan ketika kantor pusat PN Timah membunyikan sirine, pukul 7 kurang 10.
Sirine itu memekakkan telinga dalam radius puluhan kilometer seperti peringatan
serangan Jepang dalam pengeboman Pearl Harbour.
Demi mendengar sirine itu, dari rumah-rumah panggung, jalan-jalan kecil, sudutsudut
kampung, rumah-rumah dinas permanen berdinding papan, dan gang-gang sempit
bermunculanlah para kuli PN bertopi kuning membanjiri jalan raya. Mereka berdesakan,
terburu-buru mengayuh sepeda dalam rombongan besar atau berjalan kaki, karena
sepuluh menit lagi jam kerja dimulai. Jumlah mereka ribuan.
Mereka menyerbu tempat kerja masing-masing: bengkel bubut, kilang minyak,
gudang beras, dok kapal, dan unit-unit pencucian timah. Para kuli yang bekerja shift di
kapal keruk melompat berjejal-jejal ke dalam bak truk terbuka seperti sapi yang akan
digiring ke penjagalan. Tepat pukul 7 kembali dibunyikan sirene kedua tanda jam resmi
masuk kerja. Lalu tiba-tiba jalan-jalan raya, kampung-kampung, dan pasar kembali
lengang, sunyi senyap. Setelah pukul 7 pagi, rumah orang Melayu Belitong hanya dihuni
kaum wanita, para pensiunan, dan anak-anak kecil yang belum sekolah. Kampung
kembali hidup pada pukul 10, yaitu ketika wanita-wanita itu memainkan orkestra
menumbuk bumbu. Suara alu yang dilantakkan ke dalam lumpang kayu bertalu-talu,
sahut-menyahut dari rumah ke rumah.
Pukul 12 sirine kembali berbunyi, kali ini adalah sebagai tanda istirahat. Dalam
sekejap jalan raya dipenuhi para kuli yang pulang sebentar. Lapar membuat mereka
tampak seperti semut-semut hitam yang sarangnya terbakar, lebih tergesa dibanding
waktu mereka berangkat pagi tadi. Pukul 2 siang sirine berdengung lagi memanggil
mereka bekerja. Para kuli ini akan kembali pulang ke peraduan setelah terdengar sirine
yang sangat panjang tepat pukul 5 sore. Demikianlah yang berlangsung selama puluhan
tahun lamanya.
TIDAK seperti di Gedong, jika makan orang urban ini tidak mengenal appetizer
sebagai perangsang selera, tak mengenal main course, ataupun dessert. Bagi mereka
semuanya adalah menu utama. Pada musim barat ketika nelayan enggan melaut, menu
utama itu adalah ikan gabus. Para kuli yang bernafsu makan besar sesuai dengan
pembakaran kalorinya itu jika makan seluruh tubuhnya seakan tumpah ke atas meja. Agar
lebih praktis tak jarang baskom kecil nasi langsung digunakan sebagai piring. Di situlah
diguyur semangkuk gangan, yaitu masakna tradisional dengan bumbu kunir. Ketika
makan emreka tak diiringi karya Mozart Haffner No. 35 in D Major tapi diiringi
rengekan anak-anaknya yang minta dibelikan baju pramuka.
Setiap subuh para istri meniup siong (potongan bambu) untuk menghidupkan
tumpukan kayu bakar. Asap mengepul masuk ke dalam rumah, menyembul keluar
melalui celah dinding papan, dan membangunkan entok yang dipelihara di bawah rumah
panggung. Asap itu membuat penghuni rumah terbatuk-batuk, namun ia amat diperlukan
guna menyalakan gemuk sapi yang dibeli bulan sebelumnya dan digantungkan berjuntaijuntai
seperti cucian di atas perapian. Gemuk sapi itulah sarapan mereka setiap pagi.
Sebelum berangkat para kuli itu tidak minum teh Earlgrey atau cappuccino, melainkan
minum air gula aren dicampur jadam untuk menimbulkan efek tenaga kerbau yang akan
digunakan sepanjang hari.
Apabila persediaan gemuk sapi menipis dan angin barat semakin kencang, maka
menu yang disajikan sangatlah istimewa, yaitu lauk yang diasap untuk sarapan, lauk yang
diasin untuk makan siang, dan lauk yang dipepes untuk makan malam, seluruhnya terbuat
dari ikan gabus.
DI luar lingkungan urban, berpencar menuju dua arah besar adalah wilayah rural
atau pedesaan. Daerha ini memanjang dalam jarak puluhan kilometer menuju ke barat ibu
kota Kabupaten: Tanjong Pandan. Sebaliknya, ke arah selatan akan menelusuri jalur ke
pedalaman. Jalur ini berangsur-angsur berubah dari aspal menjadi jalan batu merah dan
lama-kelamaan menjadi jalan tanah setapak yang berakhir di laut.
Di sepanjang jalur pedesaan rumah penduduk berserakan, berhadap-hadapan
dipisahkan oleh jalan raya. Dulu nenek moyang mereka berladang di hutan. Belanda
menggiring mereka ke pinggir jalan raya, agar mudah dikendalikan tentu saja. Orangorang
pedesaan ini hidup bersahaja, umumnya berkebun, mengambil hasil hutan, dan
mendapat bonus musiman dari siklus buah-buahan, lebah madu, dan ikan air tawar.
Mereka mendiami tanah ulayat dan di belakang rumah mereka terhampar ribuan hektar
tanah tak bertuan, padang sabana, rawa-rawa layaknya laboratorium alam yang lengkap,
dan aliran air bening yang belum tercemar.
Kekuatan ekonomi Belitong dipimpin oleh orang staf PN dan para cukong swasta
yang mengerjakan setiap konsesi eksploitasi timah. Mereka menempati strata tertinggi
dalam lapisan yang sangat tipis. Kelas menengah tak ada, oh atau mungkin juga ada,
yaitu para camat, para kepala dinas dan pejabat-pejabat publik yang korupsi kecilkecilan,
dan aparat penegak hukum yang mendapat uang dari menggertaki cukongcukong
itu.
Sisanya berada di lapisan terendah, jumlahnya banyak dan perbedaannya amat
mencolok dibanding kelas di atasnya. Mereka adalah para pegawai kantor desa, karyawan
rendahan PN, pencari madu dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang,
semua orang Tionghoa kebun, semua orang Melayu yang hidup di pesisir, para tenaga
honorer Pemda, dan semua guru dan kepala sekolah—baik sekolah negeri maupun
sekolah kampung—kecuali guru dan kepala sekolah PN.
%
&
(5$
$
SEKOLAH-SEKOLAH PN Timah, yaitu TK, SD, dan SMP PN berada dalam kawasan
Gedong. Sekolah-sekolah ini berdiri megah di bawah naungan Aghatis berusia ratusan
tahun dan dikelilingi pagar besi tinggi berulir melambangkan kedisiplinan dan mutu
tinggi pendidikan. Sekolah PN merupakan center of excellence atau tempat bagi semua
hal yang terbaik. Sekolah ini demikian kaya raya karena didukung sepenuhnya oleh PN
Timah, sebuah korporasi yang kelebihan duit. Institusi pendidikan yang sangat modern
ini lebih tepat disebut percontohan bagaimana seharusnya generasi muda dibina.
Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya
dengan rumah bergaya Victoria di sekitarnya. Ruangan kelasnya dicat warna-warni
dengan tempelan gambar kartun yang edukatif, poster operasi dasar matematika, tabel
pemetaan unsur kimia, peta dunia, jam dinding, termometer, foto para ilmuwan dan
penjelajah yang memberi inspirasi, dan ada kapstok topi. Di setiap kelas ada patung
anatomi tubuh yang lengkap, globe yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi
planet-planet.
Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa brilian bersaing ketat dalam standar mutu
yang sanggat tinggi. Sekolah-sekolah ini memiliki perpustakaan, kantin, guru BP,
laboratorium, perlengkapan kesenian, kegiatan ekstrakurikuler yang bermutu, fasilitas
hiburan, dan sarana olahraga—termasuk sebuah kolam renang yang masih disebut dalam
bahasa Belanda: zwembad. Di depan pintu masuk kolam renang ini tentu saja terpampang
peringatan tegas “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di
setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada siswanya
yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan cepat secara profesional atau
segera dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung.
Mereka memiliki petugas-petugas kebersihan khusus, guru-guru yang bergaji
mahal, dan para penjaga sekolah yang berseragam seperti polisi lalu lintas dan selalu
meniup-niup peluit. Tali merah bergulung-gulung keren sekali di bahu seragamnya itu.
“Jumlah gurunya banyak.”
Demikian ujar Bang Amran Isnaini bin Muntazis Ilham—yang pernah sekolah di
sana—persis pada malam sebelum esoknya aku masuk pertama kali di SD
Muhammadiyah itu.
Aku termenung.
“Setiap pelajaran ada gurunya masing-masing, walaupun kau baru kelas satu.”
Maka pada malam itu aku tak bsia tidur akibat pusing menghitung berapa banyak
jumlah guru di sekolah PN, tentu saja juga selain karena rasa senang akan masuk sekolah
besok.
Murid PN umumnya anak-anak orang luar Belitong yang bapaknya menjadi
petinggi di PN. Sekolah ini juga menerima anak kampung seperti Bang Amran, tapi tentu
saja yang orangtuanya sudah menjadi orang staf. Mereka semua bersih-bersih, rapi, kaya,
necis, dan pintar-pintar luar biasa. Mereka selalu mengharumkan nama Belitong dalam
lomba-lomba kecerdasan, bahkan sampai tingkat nasional. Sekolah PN sering dikunjungi
para pejabat, pengawas sekolah, atau sekolah lain untuk melakukan semacam
benchmarking, melihat bagaimana seharusnya ilmu pengetahuan ditransfer dan
bagaimana anak-anak kecil dididik secara ilmiah.
Pendaftaran hari pertama di sekolah PN adalah sebuah perayaan penuh sukacita.
Puluhan mobil mewah berderet di depan sekolah dan ratusan anak orang kaya mendaftar.
Ada bazar dan pertunjukan seni para siswa. Setiap kelas bisa menampung hampir
sebanyak 40 siswa dan paling tidak ada 4 kelas untuk setiap tingkat. SD PN tidak akan
membagi satu pun siswanya kepada sekolah-sekolah lain yang kekurangan murid karena
sekolah itu memiliki sumber daya yang melimpah ruah untuk mengakomodasi berapa
pun jumlah siswa baru. Lebih dari itu, bersekolah di PN adalah sebuah kehormatan,
hingga tak seorang pun yang berhak sekolah di situ sudi dilungsurkan ke sekolah lain.
Ketika mendaftar badan mereka langsung diukur untuk tiga macam seragam
harian dan dua macam pakaian olah raga. Mereka juga langsung mendapat kartu
perpustakaan dan bertumpuk-tumpuk buku acuan wajib. Seragamnya untuk hari Senin
adalah baju biru bermotif bunga rambat yang indah. Sepatu yang dikenakan berhak dan
berwarna hitam mengilat. Sangat gagah ketika ber-marching band melintasi kampung.
Melihat mereka aku segera teringat pada sekawanan anak kecil yang lucu, putih, dan
bersayap, yang turun dari awan—seperti yang biasa kita lihat pada gambar-gambar buku
komik. Setiap pagi para murid PN dijemput oleh bus-bus sekolah berwarna biru.
Kepala sekolahnya adalah seorang pejabat penting, Ibu Frischa namanya. Caranya
ber-make up jelas memperlihatkan dirinya sedang bertempur mati-matian melawan usia
dan tampak jelas pula, dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. Ia seorang wanita keras
yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah
kampung. Gerak geriknya diatur sedemikian rupa sebagai penegasan kelas sosialnya. Di
dekatnya siapa pun akan merasa terintimidasi.
Kalau sempat berbicara dengan beliau, maka ia sama seperti orang Melayu yang
baru belajar memasak, bumbunya cukup tiga macam: pembicaraan tentang fasilitasfasilitas
sekolah PN, anggaran ekstrakurikuler jutaan rupiah, dan tentang murid-muridnya
yang telah menajdi dokter, insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, dan orang-orang sukses di
kota atau bahkan di luar negeri. Bagi kami yang waktu itu masih kecil, masih
berpandangan hitam putih, beliau adalah seorang tokoh antagonis.
Yang dimaksud dengan sekolah kampung tentu saja adalah perguruan
Muhammadiyah dan beberapa sekolah swasta miskin lainnya di Belitong. Selain sekolah
miskin itu memang terdapat pula beberapa sekolah negeri di kampung kami. Namun
kondisi sekolah negeri tentu lebih baik karena mereka disokong oleh negara. Sementara
sekolah kampung adalah sekolah swadaya yang kelelahan menyokong dirinya sendiri.
%

2 . 6
FILICIUM decipiens biasa ditanam botanikus untuk mengundang burung. Daunnya lebat
tak kenal musim. Bentuk daunnya cekung sehingga dapat menampung embun untuk
burung-burung kecil minum. Dahannya pun mungil, menarik hati burung segala ukuran.
Lebih dari itu, dalam jarak 50 meter dari pohon ini, di belakang sekolah kami, berdiri
kekar menjulang awan sebatang pohon tua ganitri (Elaeocarpus sphaericus schum).
Tingginya hampir 20 meter, dua kali lebih tinggi dari filicium. Konfigurasi ini
menguntungkan bagi burung-burung kecil cantik nan aduhai yang diciptakan untuk selalu
menjaga jarak dengan manusia (sepertinya setiap makhluk yang merasa dirinya cantik
memang cenderung menjaga jarak), yaitu red breasted hanging parrots atau tak lain
serindit Melayu.
Sebelum menyerbu filicium, serindit Melayu terlebih dulu melakukan pengawasan
dari dahan-dahan tinggi ganitri sambil jungkir balik seperti pemain trapeze. Melangaklongok
ke sana kemari apakah ada saingan atau musuh. Buah ganitri yang biru mampu
menyamarkan kehadiran mereka. Kemampuan burung ini berakrobat menyebabkan ahli
ornitologi Inggris menambahkan nama hanging pada nama gaulnya itu. Jika keadaan
sudah aman kawanan ini akan menukik tajam menuju dahan-dahan filicium dan tanpa
ampun, dengan paruhnya yang mampu memutuskan kawat, secepat kilat, unggas mungil
rakus ini menjarah buah-buah kecil filicium dengan kepala waspada menoleh ke kiri dan
kanan. Pelajaran moral nomor tiga: jika Anda cantik, hidup Anda tak tenang.
Seumpama suku-suku Badui di Jazirah Arab yang menggantungkan hidup pada
oasis maka filicium tua yang menaungi atap kelas kami ini adalah mata air bagi kami.
Hari-hari kami terorientasi pada pohon itu. Ia saksi bagi drama masa kecil kami. Di
dahannya kami membuat rumah-rumahan. Di balik daunnya kami bersembunyi jika bolos
pelajaran kewarganegaraan. Di batang pohonnya kami menuliskan janji setia
persahabatan dan mengukir nama-nama kecil kami dengan pisau lipat. Di akarnya yang
menonjol kami duduk berkeliling mendengar kisah Bu Mus tentang petualangan Hang
Jebat, dan di bawah keteduhan daunnya yang rindang kami bermain lompat kodok,
berlatih sandiwara Romeo dan Juliet, tertawa, menangis, bernyanyi, belajar, dan
bertengkar.
Setelah serindit Melayu terbang melesat pergi seperti anak panah Winetou
menembus langit maka hadirlah beberapa keluarga jalak kerbau. Penampilan burung ini
sangat tak istimewa. Karena tak istimewa maka tak ada yang memerhatikannya. Mereka
santai saja bertamu ke haribaan dedaunan filicium, menikmati setiap gigitan buah
kecilnya, buang hajat sesuka hatinya .... Bahkan ketika mulutnya penuh, mereka pun akan
membersihkan paruhnya dengan menggosok-gosokkannya pada kulit filicium yang
seperti handuk kering. Mereka kemudian akan turun ke tanah, buncit, penuh daging, bulat
beringsut-ingsut laksana seorang MC. Tak peduli pada dunia. Sebaliknya, kami pun tak
tertarik menggodanya. Interaksi kami dengan jalak kerbau adalah dingin dan
individualistis.
Demikian pula hubungan kami dengan burung ungkut-ungkut yang mematuki ulat
di kulit filicium. Menurutku ungkut-ungkut mendapat nama lokal yang tidak adil.
Bayangkan, nama bukunya adalah coppersmith barbet. Nyatanya ia tak lebih dari burung
biru pucat membosankan dengan bunyi yang lebih membosankan kut...kut...kut... namun
kehadirannya sangat kami tunggu karena ia selalu mengunjungi pohon filicium sekitar
pukul 10 pagi. Pada jam ini kami mendapat pelajaran kewarganegaraan yang jauh lebih
membosankan. Suara kut-kut-kut persis di luar jendela kelas kami jelas lebih menghibur
dibanding materi pelajaran bergaya indoktrinasi itu.
Setelah ungkut-ungkut berlalu hinggaplah kawanan cinenen kelabu yang mencari
serangga sisa garapan ungkut-ungkut. Tak pernah kulihat mereka hadir bersamaan karena
peringai coppersmith yang tak pernah mau kalah. Lalu silih berganti sampai menjelang
sore berkunjung burung-burung madu sepah, pipit, jalak biasa, gelatik batu, dan burung
matahari yang berjingkat-jingkat riang dari dahan ke dahan.
Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang pohon filicium
anggota familia Acacia ini. Seperti para guru yang mengabdi di bawahnya, pohon ini tak
henti-hentinya menyokong kehidupan sekian banyak spesies. Padam usim hujan ia
semakin semarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon, lintah, jamur
telur beracun, kumbang, capung, ulat bulu, dan ular daun saling berebutan tempat.
Drama, opera, dan orkestra yang manggung di dahan-dahan filicium sepanjang
hari tak kalah seru dengan panggung sandiwara yang dilakoni sepuluh homo sapiens di
sebuah kelas di bawahnya. Seperti episode pagi ini misalnya.
“Aku mau ikut ke pasar, Cai,” Syahdan memohon kepada Kucai, ketika kami
dibagi kelompok dalam pelajaran pekerjaan tangan dan harus membli kertas kajang di
pasar.
“Tapi sandal dan bajuku buruk begini”, katanya lagi dengan polos dan tahu diri
sambil melipat karung kecampang yang dipakainya sebagai tas sekolah.
“Jangan kau bikin malu aku, Dan, apa kata anak-anak SD PN nanti?” jawab Kucai
sok gengsi padahal satu pun ia tak kenal anak-anak kaya itu. Mengesankan dirinya kenal
dengan anak-anak sekolah PN dikiranya mampu menaikkan martabatnya di mata kami.
Maka sepatuku yang seperti sepatu bola itu kupinjamkan padanya. Borek rela
menukar dulu bajunya dengan baju Syahdan. Lalu Syahdan pun, yang memang
berpembawaan ceria, kali ini terlihat sangat gembira. Ia tak peduli kalau baju Borek
kebesaran dan sebenarnya tak lebih bagus dari bajunya. Ada pula kemungkinan Borek
kurapan, aku pernah melihat kurap itu ketika kami ramai-ramai mandi di dam tempo hari.
Seperti Lintang, Syahdan yang miskin juga anak seorang nelayan. Tapi bukan
maksudku mencela dia, karena kenyataannya secara ekonomi kami, sepuluh kawan
sekelas ini, memang semuanya orang susah. Ayahku, contohnya, hanya pegawai
rendahan di PN Timah. Beliau bekerja selama 25 tahun mencedok tailing, yaitu material
buangan dalam instalasi pencucian timah yang disebut wasserij. Selain bergaji rendah,
beliau juga rentan pada risiko kontaminasi radio aktif dari monazite dan senotim.
Penghasilan ayahku lebih rendah dibandingkan penghasilan ayah Syahdan yang bekerja
di bagan dan gudang kopra, penghasilan sampingan Syahdan sendiri sebagai tukang
dempul perahu, serta ibunya yang menggerus pohon karet jika digabungkan sekaligus.
Masalahnya di mata Syahdan, gedung sekolah, bagan ikan, dan gudang kopra tempat
kelapa-kelapa busuk itu bersemedi adalah sama saja. Ia tidak punya sense of fashion sama
sekali dan di lingkungannya tidak ada yang mengingatkannya bahwa sekolah berbeda
dengan keramba.
Sebangku dengan Syahdan adalah A Kiong, sebuah anomali. Tak tahu apa yang
merasuki kepala bapaknya, yaitu A Liong, seorang Kong Hu Cu sejati, waktu
mendaftarkan anak laki-laki satu-satunya itu ke sekolah Islam puritan dan miskin ini.
Mungkin karena keluarga Hokian itu, yang menghidupi keluarga dari sebidang kebun
sawi, juga amat miskin.
Tapi jika melihat A Kiong, siapa pun akan maklum kenapa nasibnya berakhir di
SD kampung ini. Ia memang memiliki penampilan akan ditolak di mana-mana. Wajahnya
seperti baru keluar dari bengkel ketok magic, alias menyerupai Frankenstein. Mukanya
lbar dan berbentuk kotak, rambutnya serupa landak, matanya tertarik ke atas seperti
sebilah pedang dan ia hampir tidak punya alis. Seluruh giginya tonggos dan hanya tinggal
setengah akibat digerogoti phyrite dan markacite dari air minum. Guru mana pun yang
melihat wajahnya akan tertekan jiwanya, membayangkan betapa susahnya menjejalkan
ilmu ke dalam kepala aluminiumnya itu.
Dia sangat naif dan tak peduli seperti jalak kerbau. Jika kitam engatakan bahwa
dunia akan kiamat besok maka ia pasti akan bergegas pulang untuk menjual satu-satunya
ayam yang ia miliki, bahkan meskipun sang ayam sedang mengeram. Dunia baginya
hitam putih dan hidup adalah sekeping jembatan papan lurus yang harus dititi. Namun,
meskipun wajahnya horor, hatinya baik luar biasa. Ia penolong dan ramah, kecuali pada
Sahara.
Tapi tak dinyana, sekian lama waktu berlalu, rupanya kepala kalengnya cepat juga
menangkap ilmu. Justru pria beraut manis manja yang duduk di depannya dan
berpenampilan layaknya orangpintar serta selalu mengangguk-angguk kalau menerima
pelajaran, ternyata lemot bukan main, namanya Kucai.
Kucai sedikit tak beruntung. Kekurangan gizi yang parah ketika kecil mungkin
menyebabkan ia menderita miopia alias rabun jauh. Selian itu pandangan matanya tidak
fokus, melenceng sekitar 20 derajat. Maka jika ia memandang lurus ke depan artinya
yang ia lihat adalah benda di samping benda yang ada persis di depannya dan demikian
sebaliknya, sehingga saat berbicara dengan seseorang ia tidak memandang lawan
bicaranya tapi ia menoleh ke samping. Namun, Kucai adalah orang paling optimis yang
pernah aku jumpai. Kekurangannya secara fisik tak sedikit pun membuatnya minder.
Sebaliknya, ia memiliki kepribadian populis, oportunis, bermulut besar, banyak teori, dan
sok tahu.
Kucai memiliki network yang luas. Ia pintar bermain kata-kata. Kalau hanya
perkara perselisihan peneng sepeda dengan aparat desa, informasi di mana bisa menjual
beras jatah PN, atau bagaimana cara mendapatkan karcis pasar malam separuh harga,
serahkan saja padanya, ia bisa memberi solusi total. Kelemahannya adalah nilai-nilai
ulangannya tidak pernah melampaui angka enam karena ia termasuk murid yang agak
kurang pintar, bodoh yang diperhalus.
Maka jika digabungkan sifat populis, sok tahu, dan oportunis dengan otaknya
yang lemot—Kucai memiliki semua kualitas untuk menjadi seorang politisi.
Kenyataannya memang begitu. Seperti kebanyakan politisi jika ia bicara tatapan matanya
dan gayanya sangat meyakinkan walaupun dungunya minta ampun. Kualitas
kepolitisiannya itu mungkin menurun dari bapaknya. Beliau adalah seorang pensiunan
tukang bagi beras di PN Timah dan telah bertahun-tahun menjabat sebagai ketua Badan
Amil masjid kampung.
Kucai juga bertahun-tahun menjadi ketua kelas kami namun bagi kami ketua
kelas adalah jabatan yang paling tidak menyenangkan. Jabatan itu menyebalkan antara
lain karena harus mengingatkan anggota kelas agar jangan berisik padahal diri sendiri tak
bisa diam. Ini menyebabkan tak ada dari kami yang ingin menjadi ketua kelas, apalagi
kelas kami ini sudah terkenal susah dikendalikan. Berulang kali Kucai menolak diangkat
kembali menduduki jabatan itu, namun setiap kali Bu Mus mengingatkan betapa
mulianya menjadi seorang pemimpin, Kucai pun luluh dan dengan terpaksa bersedia
menjabat lagi.
Suatu hari dalam pelajaran bdui pekerti kemuhamadiyahan, Bu Mus menjelaskan
tentang karakter yang dituntut Islam dari seorang amir. Amir dapat berarti seorang
pemimpin. Beliau menyitir perkataan Khalifah Umar bin Khatab.
“Barangsiapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kami tetapkan gajinya
untuk itu, maka apa pun yang ia terima selain gajinya itu adalah penipuan!”
Rupanya Bu Mus geram dengan korupsi yang merajalela di negeri ini dan beliau
menyambung dengan lantang.
“Kata-kata itu mengajarkan arti penting memegang amanah sebagai pemimpin
dan Al-Qur’an mengingatkan bahwa kepemimpinan seseorang akan
dipertanggungjawabkan nanti di akhirat ....”
Kami terpesona mendengarnya, namun Kucai gemetar. Mendapati dirinya sebagai
seorang pemimpin kelas ia gamang pada pertanggungjawaban setelah mati nanti, apalagi
sebagai seorang politisi ia menganggap bahwa menjadi ketua kelas itu tidak ada
keuntungannya sama sekali. Tidak adil! Lagi pula ia sudah muak mengurusi kami. Kami
terkejut karena serta-merta ia berdiri dan berdalih secara diplomatis.
“Ibunda Guru, Ibunda mesti tahu bahwa anak-anak kuli ini kelakuannya seperti
setan. Sama sekali tak bisa disuruh diam, terutama Borek, kalau tak ada guru ulahnya
ibarat pasien rumah sakit jiwa yang buas. Aku sudah tak tahan, Ibunda, aku menuntut
pemungutan suara yang demokratis untuk memilih ketua kelas baru. Aku juga tak
sanggup mempertanggungjawabkan kepemimpinanku di padang Masyar nanti, anak-anak
kumal ini yang tak bisa diatur ini hanya akan memberatkan hisabku!”
Kucai tampak sangat emosional. Tangannya menunjuk-nunjuk ke atas dan
napasnya tersengal setelah menghamburkan unek-unek yang mungkin telah dipendamnya
bertahun-tahun. Ia menatap Bu Mus dengan mata nanar tapi pandangannya ke arah
gambar R.H. Oma Irama Hujan Duit.
Kami semua menahan tawa melihat pemandangan itu tapi Kucai sedang sangat
serius, kami tak ingin melukai hatinya.
Bu Mus juga terkejut. Tak pernah sebelumnya beliau menerima tanggapan
selugas itu dari muridnya, tapi beliau meklum pada beban yang dipikul Kucai. Beliau
ingin bersikap seimbang maka beliau segera menyuruh kami menuliskan nama ketua
kelas baru yang kami inginkan di selembar kertas, melipatnya, dan menyerahkannya
kepada beliau. Kami menulis pilihan kami dengan bersungguh-sungguh dan saling
berahasiakan pilihan itu dengan sangat ketat.
Kucai senang sekali. Wajahnya berseri-seri. Ia merasa telah mendapatkan
keadilan dan menganggap bahwa bebannya sebagai ketua kelas akan segera berakhir.
Suasana menjadi tegang menunggu detik-detik penghitungan suara. Kami gugup
mengantisipasi siapa yang akan menjadi ketua kelas baru.
Sembilan gulungan kertas telah berada dalam genggaman Bu Mus. Beliau sendiri
kelihatan gugup. Beliau membuka gulungan pertama.
“Borek!” teriak Bu Mus.
Borek pucat dan Kucai melonjak girang. Terang-terangan ia menunjukkan bahwa
ia sendiri yang telah memilih Borek, kawan sebangkunya yang ia anggap pasien rumah
sakit jiwa yang buas. Bu Mus melanjutkan.
“Kucai!”
Kali ini Borek yang melonjak dan Kucai terdiam. Kertas ketiga.
“Kucai!”
Kucai tersenyum pahit. Kertas keempat.
“Kucai!”
Kertas kelima.
“Kucai!”
Kucai pucat pasi. Demikian seterusnya sampai kertas kesembilan. Kucai terpuruk.
Ia jengkel sekali kepada Borek yang tubuhnya menggigil menahan tawa. Ia memandang
Borek dengan tajam tapi matanya mengawasi Trapani.
Karena Harun tak bisa menulis maka jumlah kertas hanya sembilan tapi Bu Mus
tetap menghargai hak asasi politiknya. Ketika Bu Mus mengalihkan pandangan kepada
Harun, Harun mengeluarkan senyum khas dengan gigi-gigi panjgannya dan berteriak
pasti.
“Kucai ...!”
Kucai terkulai lemas. Hari ini kami mendapat pelajaran penting tentang
demokrasi, yaitu bahwa ternyata prinsip-prinsipnya tidak efektif untuk suksesi jabatan
kering. Bu Mus menghampirinya dengan lembut sambil tersenyum jenaka.
“Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat tapi jangan khawatir orang
yang akan mendoakan. Tidakkah Ananda sering mendengar di berbagai upacara petugas
sering mengucap doa: Ya, Allah lindungilah para pemimpin kami? Jarang sekali kita
mendengar doa: Ya Allah lindungilah anak-anak buah kami ....”
DUDUK di pojok sana adalah Trapani. Namanya diambil dari nama sebuah kota
pantai di Sisilia. Nyatanya ia memang seelok kota pantai itu. Ia memesona seumpama
bondol peking. Si rapi jali ini adalah maskot kelas kami. Seorang perfeksionis berwajah
seindah rembulan. Ia tipe pria yang langsung disukai wanita melalui sekali pandang.
Jambul, baju, celana, ikat pinggang, kaus kaki, dan sepatunya selalu bersih, serasi
warnanya, dan licin. Ia tak bicara jika tak perlu dan jika angkat bicara ia akan
menggunakan kata-kata yang dipilih dengan baik. Baunya pun harum. Ia seorang pemuda
santun harapan bangsa yang memenuhi semua syarat Dasa Dharma Pramuka. Citacitanya
ingin jadi guru yang mengajar di daerah terpencil untuk memajukan pendidikan
orang Melayu pedalaman, sungguh mulia. Seluruh kehidupannya seolah terinspirasi lagu
Wajib Belajar karya R.N. Sutarmas.
Ia sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya. Sebaliknya, ia juga
diperhatikan ibunya layaknya anak emas. Mungkin karena ia satu-satunya laki-laki di
antara lima saudara perempuan lainnya. Ayahnya adalah seorang operator vessel board di
kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnya dekat dengan sekolah
tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput ibunya. Ibu adlaah pusat gravitasi
hidupnya.
Trapani agak pendiam, otaknya lumayan, dan selalu menduduki peringkat ketiga.
Aku sering cemburu karena aku kebajiran salam dari sepupu-sepupuku untuk
disampaikan pada laki-laki muda flamboyan ini. Dia tak pernah menanggapi salam-salam
itu. Di sisi lain kami juga sering jengkel pada Trapani karena setiap kali kami punya
“acara”, misalnya menyangkutkan sepeda Pak Fahimi—guru kelas empat yang tak
bermutu dan selalu menggertak murid—di dahan pohon gayam, Trapani harus minta izin
dulu pada ibunya.
Lalu ada Sahara, satu-satunya hawa di kelas kami. Dia secantik grey cheeked
green, atau burung punai lenguak. Ia ramping, berjilbab, dan sedikit lebih beruntung.
Bapaknya seorang Taikong, yaitu atasan para Kepala Parit, orang-orang lapangan di PN.
Sifatnya yang utama: penuh perhatian dan kepala batu. Maka tak ada yang berani bikin
gara-gara dengannya karena ia tak pernah segan mencakar. Jika marah ia akan mengaum
dan kedua alisnya bertemu. Sahara sangat temperamental, tapi ia pintar. Peringkatnya
bersaing ketat dengan Trapani. Kebalikan dair A Kiong, Sahara sangat skeptis, susah
diyakinkan, dan tak mudah dibaut terkesan. Sifat lain Sahara yang amat menonjol adalah
kejujurannya yang luar biasa dan benar-benar menghargai kebenaran. Ia pantang
berbohong. Walaupun diancam akan dicampakkan ke dalam lautan api yang berkobarkobar,
tak satu pun dusta akan keluar dari mulutnya.
Musuh abadi Sahara adalah A Kiong. Mereka bertengkar hebat, berbaikan, lalu
bertengkar lagi. Sepertinya mereka sengaja dipertemukan nasib untuk selalu berselisih.
Mereka saling memprotes dan berbeda pendapat untuk hal-hal sepele. Sahara
menganggap apa pun yang dilakukan A Kiong selalu salha, dan demikian pula
sebaliknya. Kadang-kadang perseteruan mereka itu lucu dan membuka wawasan.
Milsanya ketika kami berkumpul dan Trapani bercerita tentang bagusnya buku
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, karya legendaris Buya Hamka.
“Aku juga sudah pernah membaca buku itu, maaf aku tak suka, terlalu banyak
nama dan tempat, susah aku mengingatnya.” Demikian komentar A Kiong mencari
penyakit.
Sahara yang sangat menghargai buku tertusuk hatinya dan menyalak tanpa
ampun, “Masya Allah! Dengar anak muda, mana bisa kauhargai karya sastra bermutu,
nanti jika Buya menulis lagi buku berjudul Si Kancil Anak Nakal Suka Mencuri Timun
barulah buku seperti itu cocok buatmu ….”
Kami semua tertawa sampai berguling-guling.
A Kiong tersinggung, tapi ia kehabisan kata, maka ditelannya saja ejekan itu
mentah-mentah, pahit memang. Apa boleh buat, ia tak bisa mengonter cemoohan
secerdas itu.
Sebaliknya, Sahara sangat lembut jika berhadapan dengan Harun. Harun adalah
seorang pria santun, pendiam, dan murah senyum. Ia juga merupakan teman yang
menyenangkan. Model rambutnya seperti Chairil Anwar dan pakaiannya selalu rapi.
Masalah pakaian itu benar-benar diperhatikan oleh ibunya. Ia lebih kelihatan seperti
pejabat kantoran di PN daripada anak sekolahan. Bagian belakang bajunya, yang
disetrika dengan lipatan berpola kotak-kotak—lagi mode ketika itu—tampak serasi di
punggung Harun.
Harun memiliki hobi mengunyah permen asam jawa dan sama sekali tidak bisa
menangkap pelajaran membaca atau menulis. Jika Bu Mus menjelaskan pelajaran, ia
duduk tenang dan terus-menerus tersenyum. Pada setiap mata pelajaran, pelajaran apa
pun, ia akan mengacung sekali dan menanyakan pertanyaan yang sama, setiap hari,
sepanjang tahun, “Ibunda Guru, kapan kita akan libur lebaran?”
“Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi …,” jawab Bu Mus sabar, berulang-ulang,
puluhan kali, sepanjang tahun, lalu Harun pun bertepuk tangan.
Jika istirahat siang Sahara dan Harun duduk berdua di bawah pohon filicium.
Mereka memiliki kaitan emosi yang unik, seperti persahabatan Tupai dan Kura-Kura.
Harun dengan bersemangat menceritakan kucingnya yang berbelang tiga baru saja
melahirkan tiga ekor anak yang semuanya berbelang tiga pada tanggal tiga kemarin.
Sahara selalu sabar mendengarkan cerita itu walaupun Harun menceritakannya setiap
hari, berulang-ulang, puluhan kali, sepanjang tahun, dari kelas satu SD sampai kelas tiga
SMP. Sahara tetap setia mendengarkan.
Jika kami naik kelas harun juga ikut naik kelas meskipun ia tak punya rapor.
Pengecualian dari sistem, demikian orang-orang pintar di Jakarta menyebut kasus seperti
ini. Aku sering memandangi wajahnya lama-lama untuk menebak apa yang ada di dalam
pikirannya. Dia hanya tersenyum menanggapi tingkahku. Harun adalah anak kecil yang
terperangkap dalam tubuh orang dewasa.
Pria kedelapan adalah Borek. Pada awalnya dia adalah murid biasa, kelakuan dan
prestasi sekolahnya sangat biasa, rata-rata air. Tapi pertemuan tak sengajanya dengan
sebuah kaleng bekas minyak penumbuh bulu yang kiranya berasal dari sebuah negeri nun
jauh di Jazirah Arab sana telah mengubah total arah hidupnya. Gambar di kaleng itu
memperlihatkan seorang pria bercelana dalam merah, berbadang tinggi besar, berotot
kawat tulang besi, dan berbulu laksana seekor gorila jantan. Ia menemukan kaleng itu di
dapur seorang pedagang kaki lima spesialis penumbuh segala jenis rambut.
Sejak itu Borek tidak tertarik lagi dengan hal lain dalam hidup ini selain sesuatu
yang berhubungan dengan upaya membesarkan ototnya. Karena latihan keras, ia berhasil,
dan mendapat julukan Samson. Sebuah gelar ningrat yang disandangnya dengan penuh
rasa bangga. Agak aneh memang, tapi paling tidak sejak usia muda Borek sudah menjadi
dirinya sendiri dan sudah tau pasti ingin menjadi apa dia nanti, l.alu secara konsisten ia
berusaha mencapainya. Ia melompati suatu tahap pencarian identitas yang tak jarang
mengombang-ambingkan orang sampai tua. Bahkan sering sekali mereka yang tak
kunjung menemukan identitas menjalani hidup sebagai orang lain. Borek lebih baik dari
mereka.
Samson demikian terobsesi dengan body building dan tergila-gila dengan citra
cowok macho, dan pada suatu hari aku termakan hasutannya.
AKU tak mengerti dari mana ia mendapat sebuah pengetahuan rahasia untuk
membesarkan otot dada.
“Jangan bilang siapa-siapa …!” katanya berbisik. Ia menoleh ke kiri dan kanan,
seakan takut ada yang memerhatikan dan mencuri idenya. Lalu ia menarik tanganku,
kami pun berlari menuju belakang sekolah, sembunyi di ruangan bekas gardu listrik. Dari
dalam tasnya ia mengeluarkan sebuah bola tenis yang dibelah dua.
“Kalau i9ngin dadamu menonjol seperti dadaku, inilah rahasianya!” Kembali ia
berbisik walaupun ia tahu di sana tak mungkin ada siapa-siapa. Agaknya bola tenis itu
mengandung sebuah keajaiban.
“Pasti sebuah penemuan yang hebat, rupanya bola tenis inilah rahasia keindahan
tubuhnya,” pikirku. Tapi akan diapakan aku ini?
“Buka bajumu!” perintahnya. “Biar kujadikan kau pria sejati pujaan kaum
Hawa….”
Wajahnya menunjukkan bahwa ia tak habis pikir mengapa semua laki-laki di luar
sana tidak melakukan metode praktisnya ini, jalan pintas menuju kesempurnaan
penampilan seorang lelaki. Sesungguhnya aku ragu tapi tak punya pilihan lain. Pintu
gardu sudah ditutup.
“Cepatlah!”
Aku semakin ragu.
Namun, belum sempat aku berpikir jauh tiba-tiba ia merangsek maju ke arahku
dan dengan keras menekankan bola tenis itu ke dadaku. Aku terjajar ke belakang sampai
hampir jatuh. Aku tak berdaya. Dengan leluasa dan sekuat tenaga ia membenamkan
benda sialan itu ke kulit dadaku karena sekarang punggungku terhalang oleh tumpukan
balok. Badannya jauh lebih besar, tenaganya seperti kuli, alisnya sampai bertemu karena
ia mengerahkan segenap kekuatannya, emmbuatku meronta-ronta.
Aku paham, belahan bola tenis ini dimaksudkan bekerja seperti sebuah benda
aneh bertangkai kayu dan berujung karet yang dipakai orang untuk menguras lubang WC.
Bola tenis itu adalah alat bekam yang akan menarik otot sehingga menonjol dan bidang.
Itu idenya. Sekarang tekanan tenaga Samson dan daya isap bola tenis itu mulai bereaksi
menyiksaku.
Yang akurasakan adalah seluruh isi dadaku: jantung, hati, paru-paru, limpa,
berikut isi perut dan darahku seperti terisap oleh bola tenis itu. Bahkan mataku rasanya
akan meloncat. Aku tercekat, tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Aku memberi isyarat
agar ia melepaskan pembekam itu.
“Belum waktunya, harus seslesai hitung nama dan orangtua, baru ada
khasiatnya!”
Hitung nama dan orangtua? Aduh! Celaka!
Hitung nama dan orangtua adalah inovasi konyol kami sendiri, yaitu
mebngerjakan sesuatu dalam durasi menyebut nama sekaligus nama orang tua, misalnya
Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari atau Harun Ardhli Ramadhan bin
Syamsul Hazana Ramadhan. Aku sudah tak sanggup menanggungkan benda yang
menyedot dadaku ini selama menyebut nama sepuluh teman sekelas apalagi dengan nama
orangtuanya. Nama orang Melayu tak pernah singkat.
Samson tak peduli, ia tetap menekan belahan bola tenis itu tanpa perasaan. Ini
adalah adu kekuatan antara David yang kecil dan Goliath sang raksasa. Aku terperangkap
seperti ikan kepuyu di dalam bubu. Aku mulai sesak napas. Tubuhku rasanya akan
meledak. Isapan bola tenis itu laksana sengatan lebah tanah kuning yang paling berbisa
dan tubuhku mulai terasa menciut. Kakiku mengais-ngais putus asa seperti banteng
bernafsu menanduk matador. Namun, pada detik paling gawat itu rupanya Tuhan
menyelamatkanku karena tanpa diduga salah satu balok di belakangku jatuh sehingga
sekarang aku memiliki ruang utnuk mengambil ancang-ancang. Tanpa menyia-nyiakan
kesempatan, kuambil seluruh tenaga terakhir yang tersisa lalu dengan sekali jurus
kutendang selangkang Samson, tepat di belahan pelirnya, sekuat-kuatnya, persis pegulat
Jepang Antonio Inoki menghantam Muhammad Ali di lokasi tak sopan itu pada
pertarungan absurd tahun ’76.
Samson melolong-lolong seperti kumbang terperangkap dalam stoples. Aku
melompat kabur pontang-panting. Belahan bola tenis inovasi genius dunia body building
itu pun terpental ke udara dan jatuh berguling-guling lesu di atas tumpukan jerami.
Sempat aku menoleh ke belakang dan melihat Samson masih berputar-putar memegangi
selangkangnya, lalu manusia Herucles itu pun tumbang berdebam di atas tanah.
Di dadaku melingkar tnada bulat merah kehitam-hitaman, sebuah jejak
kemahatololan.
Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, karena pelajaran Budi
Pekerti Kemuhammadiyahan setiap Jumat pagi tak membolehkan aku membohongi
orangtua, apalagi ibu. Maka dengan amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohanku
sendiri. Abang-abang dan ayahku tertawa sampai menggigil dan saat itulah untuk
pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang penyakit gila.
“Gila itu ada 44 macam,” kata ibuku seperti seorang psikiater ahli sambil
mengunyah gambir dan sirih.
“Semakin kecil nomornya semakin parah gilanya,” beliau menggeleng-gelengkan
kepalanya dan menatapku seeperti sedang menghadapi seorang pasien rumah sakit jiwa.
“Maka orang-orang yang sudah tidak berpakaian dan lupa diri di jalan-jalan,
itulah gila no.1, dan gila yang kau buat dengan bola tenis itu sudah bisa masuk no. 5.
Cukup serius! Hati-hati, kalau tak pakai akal sehat dalam setiap kelakuanmu maka angka
itu bisa segera mengecil.”
Bukan bermaksud berpolemik dengan temuan para ahli jiwa. Kami mengerti
bahwa teori ini tentu saja hanya untuk mengingatkan anak-anaknya agar jangan bertindak
keterlaluan. Tapi begitulah teori penyakit gila versi ibuku dan bagiku teori itu efektif.
Aku malu sudah bertindak konyol.
Aku tak yakin apakah Samson benar-benar menerapkan teknik sinting itu untuk
memperbesar otot-ototnya, ataukah ia hanya ingin membodohi aku. Yang kutahu pasti
adalah selama tiga hari berikutnya ia ke sekolah dengan berjalan terkangkang-kangkang
seperti orang pengkor, badannya yangb esar membuat ia tampak seperti kingkong.
PADA sebuah pagi yang lain, pukul sepuluh, seharusnya burung kut-kut sudah
datang. Tapi pagi ini senyap. Aku tersenyum sendiri melamunkan seifat-sifat kawan
sekelasku. Lalu aku memandangi guruku Bu Mus, seseorang yang bersedia menerima
kami apa adanya dengan sepenuh hatinya, segenap jiwanya. Ia paham betul kemiskinan
dan posisi kami yang rentan sehingga tak pernah membuat kebijakan apa pun yang
mengandung implikasi biaya. Ia selalu membesarkan hati kami. Kupandangi juga
sembilan teman sekelasku, orang-orang muda yang luar biasa. Sebagian mereka ke
sekolah hanya memakai sandal, sementara yang bersepatu selalu tampak kebesaran
sepatunya. Orantua kami yang tak mampu memang sengaja membeli sepatu dua nomor
lebih besar agar dapat dipakai dalam dua tahun ajaran.
Ada keindahan yang unik dalam interaksi masing-masing sifat para sahabatku.
Tersembunyi daya tarik pada cara mereka mengartikan sekstan untuk mengukur diri
sendiri, menilai kemampuan orang tua, melihat arah masa depan, dan memersepsi
pandangan lingkungan terhadap mereka. Kadang kala pemikiran mereka kontradiktif
terhadap pendapat umum laksana gurun bertemu pantai atau ibarat hujan ketika matahari
sedang terik. Tak jarang mereka seperti kelelawar yang tersasar masuk ke kamar,
menabrak-nabrak kaca ingin keluar dan frustasi. Mereka juga seperti seekor parkit yang
terkurung di dalam gua, kebingungan dengan gema suaranya sendiri.
Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan sekarang aku
menemukan kenyataan yang memesona dalam sosiologi lingkungan kami yang ironis. Di
sini ada sekolahku yang sederhana, para sahabatku yang melarat, orang Melayu yang
terabaikan, juga ada orang staf dan sekolah PN mereka yang glamor, serta PN Timah
yang gemah ripah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu adalah
perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setiap hari.
Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena perguruan
Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia merupakan pusat marginalitas
sehingga ia adalah sebuah universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti
keikhlasan, perjuangan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini mewariskan
pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mulia, keberanian untuk
merealisasi ide itu meskipun tak putus-putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani
hidup dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain melalui
pengorbanan tanpa pamrih.
Maka sejak waktu virtual tercipta dalam definisi hipotesis manusia tatkala nebula
mengeras dalam teori lubang hitam, di antara titik-titik kurunnya yang merentang panjang
tak tahu akan berhenti sampai kapan, aku pada titik ini, di tempat ini, merasa bersyukur
menjadi orang Melayu Belitong yang sempat menjadi murid Muhammadiyah. Dan
sembilan teman sekelasku memberiku hari-hari yang lebih dari cukup untuk suatu ketika
di masa depan nanti kuceritakan pada setiap orang bahwa masa kecilku amat bahagia.
Kebahagiaan yang spesifik karena kami hidup dengan persepsi tentang kesenangan
sekolah dan persahabatan yang kami terjemahkan sendiri.
Kami adalah sepuluh umpan nasib dan kami seumpama kerang-kerang halus yang
melekat erat satu sama lain dihantam deburan ombak ilmu. Kami seperti anak-anak
bebek. Tak terpisahkan dalam susah dan senang. Induknya adalah Bu Mus. Sekali lagi
kulihat wajah mereka, Harun yang murah senyum, Trapani yang rupawan, Syahdan yang
lilipu, Kucai yang sok gengsi, Sahara yang ketus, A Kiong yang polos, dan pria
kedelapan—yaitu Samson—yang duduk seperti patung Ganesha.
Lalu siapa pria yang kesembilan dan kesepuluh? Lintang dan Mahar. Pelajaran
apa yang mereka tawarkan? Mereka adalah pria-pria muda yang sangat istimewa.
Memerlukan bab tersendiri untuk menceritakannya. Sampai di sini, aku sudah merasa
menjadi seorang anak kecil yang sangat beruntung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar